Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Calon Gedung Tertinggi di Dunia Ini Ternyata Sempat "Mangkrak"

Kompas.com, 23 Maret 2026, 21:31 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Pembangunan Jeddah Tower kembali menjadi sorotan dunia setelah proses pembangunannya sudah mencapai lantai ke-95 per Maret 2026.

Gedung super tinggi ini dirancang oleh firma arsitektur Adrian Smith + Gordon Gill Architecture.

Perusahaan arsitektur kenamaan ini dikenal luas karena pernah menggarap proyek-proyek besar seperti Burj Khalifa, Pearl River Tower di China, hingga Central Park Tower di New York.

Progres pembangunan Jeddah Tower pun tergolong cepat, dengan tim konstruksi mampu menambah satu lantai baru setiap tiga hingga lima hari.

Jika rampung sesuai rencana, menara ini akan melampaui ketinggian Burj Khalifa yang mencapai 828 meter. Dengan target lebih dari 1.000 meter, Jeddah Tower akan menjadi gedung tertinggi di dunia yang baru.

Proyek ini berada di bawah Jeddah Economic Company (JEC), perusahaan holding properti yang berdiri pada 2009. JEC merupakan usaha patungan sejumlah perusahaan besar di Arab Saudi, dengan Kingdom Holding Company sebagai pemegang saham mayoritas.

Jeddah Tower Sempat Terhenti

Sebagai informasi saja, proyek yang berlokasi di Kota Jeddah ini kembali dilanjutkan pada awal 2025 setelah sempat terhenti cukup lama.

Baca juga: Ini Konglomerat Pemilik Jeddah Tower, Calon Gedung Tertinggi di Dunia

Proyek ini memiliki perjalanan panjang. Pembangunan dimulai sejak 2013, tetapi sempat terhenti dua kali, penghentian pertama saat adanya kebijakan pembersihan anti-korupsi Arab Saudi pada 2017.

Konglomerat Arab Saudi, Al Waleed bin Talal yang merupakan pemegang saham JEC, pemilik Jeddah Tower, sempat ditahan oleh pemerintahan Kerajaan Arab Saudi di bawah Mohammed bin Salman (MBS).

Peristiwa penangkapan massal elit, pangeran, menteri, dan pebisnis terkemuka Arab Saudi ini dimulai pada 4 November 2017, dipimpin oleh MBS.

Mereka kemudian ditahan hotel mewah Ritz-Carlton Riyadh. Operasi ini menahan ratusan individu yang dituduh korupsi, yang kemudian dilepaskan.

Pembangunan Jeddah Tower terhenti untuk kedua kalinya, yakni saat awal pandemi global Covid-19. Proyek ini sempat terbengkalai sejak 2020 dengan progres sekitar 300 meter atau setara 68 lantai.

Kini, setelah melewati masa mangkrak, pembangunan Jeddah Tower kembali melaju dan semakin mendekati ambisinya untuk menjadi gedung tertinggi di dunia.

Jeddah Tower Sudah Capai 95 Lantai

Direktur Eksekutif SBG, Ian Miller, melalui akun LinkedIn miliknya juga kerap membagikan perkembangan proyek ini. Ia menyebut timnya telah bersiap melakukan pengecoran beton di lantai ke-95.

Baca juga: Jeddah Tower Sudah Capai Lantai 95, Bakal Lampaui Burj Khalifa

“Saat ini kami sudah bersiap untuk melakukan pengecoran beton dinding di lantai 95,” tulisnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau