Penulis
KOMPAS.com - Proyek ambisius Jeddah Tower mencuri banyak perhatian karena digadang-gadang akan menjadi gedung tertinggi di dunia.
Dari sisi desain, Jeddah Tower dirancang oleh firma arsitektur Adrian Smith + Gordon Gill Architecture, perusahaan arsitektur yang merancang proyek-proyek megah seperti Burj Khalifa, Pearl River Tower Cina, FKI Tower, Al Wasl Plaza, Warldorf Astoria, dan Central Park Tower New York.
Sejumlah laporan menyebut, hingga Maret 2026, struktur bangunan telah melampaui 95 lantai. Bahkan, tim konstruksi disebut mampu menambah satu lantai baru setiap tiga hingga lima hari, menandakan percepatan pembangunan yang cukup pesat.
Jika selesai sesuai rencana, Jeddah Tower akan melampaui ketinggian Burj Khalifa yang saat ini berdiri setinggi 828 meter. Dengan demikian, menara ini akan menyandang status sebagai gedung tertinggi di dunia paling baru.
Untuk diketahui, pemilik Jeddah Tower adalah Jeddah Economic Company (JEC), sebuah perusahaan holding properti yang berdiri pada 2009. JEC merupakan usaha patungan sejumlah perusahaan besar di sektor real estat dan pengembang di Arab Saudi.
Baca juga: Jeddah Tower Sudah Capai Lantai 95, Bakal Lampaui Burj Khalifa
Dikutip dari situs resminya, JEC terdiri dari beberapa pemegang saham utama, yakni Kingdom Holding Company sebagai pemegang saham mayoritas, kemudian Abrar Holding Company, dan Qila'a Jeddah Company.
Saudi Binladin Group (SBG) yang juga merupakan kontraktor pembangunan Jeddah Tower, juga ikut menjadi pemegang saham di JEC.
Aliansi bisnis ini tidak lepas dari ambisi Al Waleed bin Talal, anggota keluarga kerajaan Arab Saudi sekaligus pemilik Kingdom Holding Company.
Orang terkaya di Arab Saudi ini menjadi sosok kunci di balik gagasan pembangunan menara setinggi lebih dari satu kilometer tersebut.
Al Waleed bin Talal adalah tercatat merupakan pemegang saham perorangan terbesar Citigroup, pemegang saham pemilih terbesar kedua di 21st Century Fox, pemegang saham kecil di beberapa perusahaan besar lain seperti Apple, Motorola, Daewoo, Coca Cola, X, hingga Ford Motor Company.
Forbes mencatat, kekayaan Al Waleed bin Talal mencapai 19,9 miliar dollar AS.
Baca juga: Siapa Pemilik Masjid AttaAwun di Puncak, Punya Pemda atau Swasta?
Proyek yang berlokasi di Jeddah ini kembali dilanjutkan pada awal 2025 setelah sempat terhenti cukup lama. Hingga 26 Februari 2026, struktur bangunan dilaporkan telah melampaui 90 lantai, bahkan mendekati lantai ke-95.
Pembangunan pun berjalan cukup cepat. Tim konstruksi menargetkan penyelesaian satu lantai baru setiap tiga hingga lima hari, menunjukkan percepatan signifikan dibandingkan fase sebelumnya.
Jika rampung sesuai rencana pada 2028, Jeddah Tower akan melampaui ketinggian Burj Khalifa yang saat ini mencapai 828 meter. Dengan target lebih dari 1.000 meter, menara ini berpotensi menjadi struktur buatan manusia pertama yang menembus angka tersebut.
Perusahaan konsultan teknik Thornton Tomasetti bahkan menyebut bahwa setelah selesai, bangunan ini akan menjadi struktur pertama yang mencapai panjang satu kilometer penuh.
Tak hanya memecahkan rekor ketinggian, proyek ini juga dirancang sebagai kompleks multifungsi dengan lebih dari 160 hingga 200 lantai.
Salah satu daya tarik utamanya adalah dek observasi di ketinggian sekitar 630 meter, yang akan menjadi salah satu titik pandang tertinggi di dunia.
Jika menengok ke belakang, pembangunan menara ini dimulai sejak 2013. Namun, proyek sempat terhenti dua kali, yakni setelah kebijakan pembersihan anti-korupsi Arab Saudi pada 2017 serta saat awal pandemi global.
Sebelum konstruksi kembali dilanjutkan pada 2025, proyek ini sempat terbengkalai sejak 2020 dengan progres sekitar 300 meter atau setara 68 lantai.
Baca juga: Siapa Pemilik Menara Eiffel dan Pengelolanya Sekarang?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang