Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Orang Barat "Keliru" Menyebut Rumah Adat Khas Bali

Kompas.com, 24 Maret 2026, 18:16 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Media sosial Tanah Air diramaikan dengan pemberitaan media kenamaan asal Amerika Serikat (AS), Wall Street Journal (WSJ), yang menyinggung soal rumah adat yang disebut sebagai bangunan khas Bali.

Dalam unggahannya di Instragram, WSJ menulis rumah megah yang dibangun miliader John Paul DeJoria di Hawai, AS. Rumah tersebut dianggap sebagai rumah adat Bali.

Rumah milik DeJoria itu berbentuk rumah panggung kayu dan bisa dibongkar pasang, sehingga bisa dipindahkan dari satu tempat ke lokasi lainnya.

"DeJoria meminta bantuan para pengrajin di Indonesia untuk mendesain sekaligus membangun rumah bergaya khas Bali. Kemudian rumah itu dibongkar dan mengirimkannya ke Big Island di Hawaii, di lokasi yang berada di tepi laut. Proses (pembuatan dan pemindahan) itu menelan biaya beberapa juta dollar," kata DeJoria, sebagaimana ditulis WSJ di akun Instagram resminya.

DeJoria sendiri merupakan konglomerat pemilik bisnis minuman premium dengan merek tequila Patron. Ia juga menjalankan perusahaan produsen produk perawatan rambut, John Paul Mitchell Systems.

Baca juga: Keajaiban Arsitektur Rumah Gadang Minang yang Beratap Ijuk Pohon Aren

WSJ menulis, rumah mewah DeJoria itu dirancang sebagai rumah tradisional dengan atap berbentuk sirap menyerupai kulit naga, valuasi properti itu diklaim mencapai 32,5 juta dollar AS atau setara Rp 548,41 miliar (kurs Rp 16.800).

DeJoria dan istrinya, Eloise DeJoria, yang keduanya kini menetap di Austin, Texas, berencana menjual rumah adat mewah tersebut. Penjualan dilakukan karena aset rumah pribadi mereka sudah terlalu banyak, yakni mencapai 10 rumah.

"Dirancang dengan gaya pura Bali, rumah ini terkenal di daerah tersebut. Saat hujan deras, air menyembur dari mulut naga yang diukir di sudut-sudut atap. Rumah seluas sekitar 3.600 kaki persegi dengan tiga kamar tidur ini terletak di antara beberapa kolam di Kiholo Bay," tulis WSJ.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh WSJ Real Estate (@wsjrealestate)

Setelah unggahan di akun media sosial milik WSJ itu, banyak warganet yang memberikan penjelasan bahwa rumah adat milik DeJoria itu bukan rumah khas Bali, melainkan rumah Gadang yang berasal dari Minangkabau atau Sumatera Barat.

Selain warganet asal Tanah Air, banyak warga AS yang pernah berkunjung ke Indonesia juga meluruskan, bahwa rumah adat mewah DeJoria itu adalah rumah Gadang Minangkabau.

Sementara beberapa warganet lainnya menilai rumah itu bergaya campuran beberapa rumah adat yang ada di Asia Tenggara, yakni Sumatera dan Thailand, namun bukan spesifik berasal dari Bali.

Baca juga: Mengenal Arsitektur Rumah Gadang, Rumah Adat Minangkabau

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau