Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

NOC Indonesia Dorong PSSI Lebih Proaktif Suarakan Sikap Terkait Regulasi Baru Asian Games 2026

Kompas.com, 14 Maret 2026, 04:23 WIB
Pratama Yudha,
Firzie A. Idris

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, mendorong PSSI untuk lebih proaktif menyuarakan sikap terkait regulasi baru yang diterapkan di cabang olahraga sepak bola Asian Games 2026 Nagoya.

Seperti diketahui, Dewan Olimpiade Asia (OCA) bersama AFC dan panitia pelaksana Asian Games 2026 sepakat untuk menerapkan aturan baru yang membatasi partisipasi sepak bola hanya kepada 16 negara. 

16 negara partisipan diambil masing-masing dari Piala Asia U23 2026 untuk kategori putra dan Piala Asia Wanita 2026 di kategori putri.

Regulasi tersebut membuat Indonesia tak bisa mengirim wakil di sepak bola Asian Games 2026 lantaran timnas U23 putra dan timnas putri gagal lolos ke dua ajang tersebut.

Sempat tersiar kabar bahwa aturan pembatasan jumlah peserta untuk sepak bola putra dan putri dihapus sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil.

Baca juga: Persib Bandung Buru Hattrick Juara, Bojan Hodak Tatap 10 Final

Namun, informasi tersebut dipastikan tidak benar dan belum ada perubahan aturan terkait partisipasi cabang sepak bola di Asian Games 2026.

OCA dan AFC masih mengacu pada regulasi 16 tim sesuai kesepakatan yang tercantum dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 13 Desember 2024.

Kendati demikian, Raja Sapta Oktohari menyatakan pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan OCA terkait peluang Indonesia untuk tampil di cabang olahraga sepak bola Asian Games 2026.

Lebih Proaktif

Selain itu, dia juga berharap PSSI lebih proaktif untuk menyuarakan protes terkait kebijakan tersebut sebagai federasi yang terdampak langsung dari regulasi baru itu.

NOC Indonesia mengimbau, khususnya kepada PSSI, agar dapat lebih proaktif dan menyuarakan sikap secara lebih lantang. Hal ini penting karena pihak yang paling berkepentingan adalah PSSI bersama federasi sepak bola nasional dari negara-negara lain,” kata Oktohari ketika ditemui di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Baca juga: Takluk Dua Kali, Bintang Juventus Merasa Masih Lebih Kuat dari Como

Sejauh ini, NOC Indonesia terus berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Erick Thohir.

Namun, dia juga meminta kepada PSSI agar mengambil peran lebih besar karena persoalan ini menjadi kepentingan sepak bola nasional.

“Kami dari NOC Indonesia sudah berupaya dan juga telah berkoordinasi dengan Menteri Pemuda dan Olahraga," ucap Oktohari.

"Selanjutnya, kami berharap PSSI dapat menyuarakan kepentingan ini dengan lebih kuat, mengingat pihak yang paling berkepentingan dalam hal ini adalah federasi sepak bola,” ungkap dia.

Baca juga: Liverpool Vs Tottenham: Arne Slot Harap Alisson Becker Kembali Fit

Oktohari menilai jika hal ini lebih disuarakan secara masif oleh berbagai federasi sepak bola di Asia termasuk Indonesia, diharapkan bisa menekan pihak terkait agar persoalan ini mendapatkan perhatian.

“Jika komunikasi dapat dibangun secara luas dan disuarakan secara masif, saya rasa tekanan juga bisa diberikan agar persoalan ini mendapat perhatian. Karena itu, motor penggeraknya harus datang dari Indonesia,” ucap Oktohari.

Asian Games 2026 sendiri akan bergulir pada 19 September - 4 Oktober 2026 di Jepang.

Pada tiga edisi sebelumnya, langkah Timnas U23 Indonesia selalu terhenti di babak 16 besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Daftar Lengkap 48 Tim di Piala Dunia 2026: Irak Lolos, Curacao Ukir Sejarah
Internasional
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Internasional
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Malaysia Gagal ke Piala Asia 2027, Peter Cklamovski Akui Keunggulan Vietnam
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia Era John Herdman: Menjanjikan, tapi Masih Banyak PR
Timnas Indonesia
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Cerita Dony Tri Bela Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Dapat Petuah Verdonk
Timnas Indonesia
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Jadwal Babak 16 Besar Piala Gubernur DKI Jakarta, ASIOP Tancap Gas
Liga Indonesia
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Skor Irak Vs Bolivia 2-1, Persib Punya Wakil di Piala Dunia 2026
Internasional
Respons Dony Tri Pamungkas Usai Calvin Verdonk Dukung Main di Eropa
Respons Dony Tri Pamungkas Usai Calvin Verdonk Dukung Main di Eropa
Timnas Indonesia
KNVB Usut Kasus Naturalisasi, Pemain Indonesia Berpotensi Dibekukan?
KNVB Usut Kasus Naturalisasi, Pemain Indonesia Berpotensi Dibekukan?
Liga Lain
Hasil Irak Vs Bolivia 2-1: Wakil Asia di Piala Dunia 2026 Bertambah
Hasil Irak Vs Bolivia 2-1: Wakil Asia di Piala Dunia 2026 Bertambah
Internasional
Jepang Tekuk Inggris 1-0 di Wembley, Skuad Tuchel Rindukan Kane
Jepang Tekuk Inggris 1-0 di Wembley, Skuad Tuchel Rindukan Kane
Internasional
Italia Gagal ke Piala Dunia, Waktu Gianluigi Buffon Sampai Juni
Italia Gagal ke Piala Dunia, Waktu Gianluigi Buffon Sampai Juni
Internasional
Rekam Jejak Tiga Kegagalan Lolos Beruntun Italia ke Piala Dunia
Rekam Jejak Tiga Kegagalan Lolos Beruntun Italia ke Piala Dunia
Internasional
Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia, Gattuso Ungkap Luka dan Pilih Diam
Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia, Gattuso Ungkap Luka dan Pilih Diam
Internasional
Ketika Keunggulan Italia Berubah Jadi Tekanan Setelah Kartu Merah
Ketika Keunggulan Italia Berubah Jadi Tekanan Setelah Kartu Merah
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau