Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Triptonic Bikin Transmisi Lebih Ringan, Begini Cara Kerjanya

Kompas.com, 2 November 2025, 16:02 WIB
Aprida Mega Nanda,
Stanly Ravel

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini beberapa mobil matik mengusung transmisi berjenis triptonic. Namun, tak sedikit yang memahami kalau sistem ini memiliki fungsi yang cukup penting untuk menjaga performa dan keawetan transmisi, terutama saat mobil melaju di kecepatan tinggi atau sedang menyalip.

Transmisi triptonic merupakan sistem transmisi otomatis yang memungkinkan pengemudi mengganti gigi secara manual tanpa menggunakan kopling.

Biasanya, perpindahan gigi dilakukan lewat tuas transmisi yang bisa digeser ke posisi "+" untuk naik gigi, dan "–" untuk turun gigi, atau lewat paddle shift di belakang setir.

Baca juga: Pebalap MotoGP Ini Usul Format Kualifikasi Diubah

Sederhananya, triptonic menggabungkan kenyamanan transmisi otomatis dengan sensasi kontrol seperti mobil manual.

Pengemudi tetap bisa menentukan kapan mobil berpindah gigi, tapi sistem akan mencegah perpindahan ekstrem yang bisa merusak mesin.

Toyota Hilux Rangga transmisi otomatisKompas.com/Nanda Toyota Hilux Rangga transmisi otomatis

Eddy Handoko Wijaya, pemilik bengkel spesialis transmisi otomatis Bos Matic, menegaskan jika sistem triptonic bisa memperingan kerja transmisi.

“Kalau pakai triptonic, itu sejujurnya memperingan kerja mobil. Mempermudah sistem kerja transmisi. Karena kan seberapa RPM itu kita yang menginginkan. Kita ingin cepat berpindah, langsung kita geser. Jadi sesungguhnya memperingan kerja transmisi,” ujar Eddy saat ditemui KOMPAS.com di Tangerang, belum lama ini.

Fitur triptonic memungkinkan pengemudi mengatur perpindahan gigi secara manual lewat tuas atau paddle shift tanpa harus menginjak kopling.

Sistem ini memberi kontrol lebih besar terhadap putaran mesin, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan berkendara misalnya saat ingin menyalip kendaraan lain.

Baca juga: Dari Jepang, Daihatsu Pastikan Mobilnya Aman Tenggak BBM E10

Eddy menjelaskan, triptonic bisa dimanfaatkan untuk menurunkan gigi secara manual ketika ingin menambah tenaga. Dengan begitu, beban kerja transmisi menjadi lebih ringan dibandingkan apabila pengemudi hanya mengandalkan pedal gas untuk kickdown.

“Kalau ingin ngebut, nyalip, kickdown, itu sebaiknya pakai triptonic turun yang bagus. Atau dipindahkan tuasnya,” kata Eddy.

Test drive Mitsubishi DestinatorKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Test drive Mitsubishi Destinator

“Kalau di D kita bejek gas, enggak masalah, bisa juga. Tapi itu memperberat kerja transmisi. Beda kalau tuasnya langsung kita pindah ke 3 misalkan. Itu lebih aman,” lanjutnya.

Dengan cara ini, perpindahan gigi bisa dilakukan lebih presisi dan sesuai kebutuhan. Selain itu, triptonic juga membantu mengurangi risiko panas berlebih atau keausan dini pada komponen transmisi.

Baca juga: Jangan Injak Pedal Gas saat Memanaskan Mesin Mobil, Ini Alasannya

“Jadi saran kami, kalau ingin ngebut, ingin nyalip, pindahkan tuas aja, itu lebih aman. Dibanding kalau kita membejek gas supaya transmisi pindah sendiri. Lebih aman pakai tuasnya, untuk ingin nyalip atau naik-turun, jadi tuas yang kita mainin," kata Eddy,

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau