Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelek Penyok Usai Hantam Lubang Belum Tentu Jelek, Ini Penjelasannya

Kompas.com, 1 Maret 2026, 09:41 WIB
Gilang Satria,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak sedikit pemilik mobil langsung menganggap pelek mobil berkualitas buruk ketika terlihat penyok setelah menghantam lubang.

Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan produk tersebut jelek terutama untuk pelek aftermarket.

Baca juga: Radiator Bermasalah Bisa Bikin Mobil Matik Tak Kuat Nanjak? Ini Penjelasannya

Runang dari HWS Wheel, Car Part & Accessories di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa karakter material pelek menentukan bagaimana respon saat menerima benturan keras.

Pelek mobil retak di bagian outer rimTangkapan layar YouTube @Taco8V Pelek mobil retak di bagian outer rim

“Jadi material (pelek) itu kadang ada yang lebih kering, ada yang lebih lentur. Pelek yang bagus pun, kalau sampai peyang, belum tentu berarti kualitasnya tidak bagus," ujar Runang kepada Kompas.com, yang ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, dalam kondisi tertentu, pelek yang penyok justru lebih aman dibandingkan pelek yang langsung pecah saat menerima benturan keras.

"Justru lebih baik pelek itu peang daripada saat terkena impak langsung pecah. Kita sering lihat di jalan tol, ada pelek yang sampai terlepas. Tinggal jari-jarinya saja yang menempel di mobil, sementara badan peleknya hancur atau terlepas," katanya.

Baca juga: Pembatasan Operasional Truk Lebaran 2026 di Semarang: Ini Rute yang Terdampak

Ia menjelaskan, fenomena tersebut biasanya terjadi karena karakter material yang terlalu kaku atau “kering”, sehingga tidak mampu menyerap energi benturan. Akibatnya, pelek bisa retak bahkan pecah ketika menghantam lubang dalam kecepatan tinggi.

Pelek mobil rusak setelah meintasi tol layang Jakarta-Cikampek (Japek).Instagram @meigitri Pelek mobil rusak setelah meintasi tol layang Jakarta-Cikampek (Japek).

"Nah, di situ pentingnya penjagaan kualitas dari merek itu. Biasanya mereka sudah melakukan riset dan pengembangan (R&D), termasuk menentukan komposisi dan karakter materialnya," katanya.

Artinya, produsen pelek ternama umumnya sudah memperhitungkan fleksibilitas material agar tidak langsung patah saat menerima beban ekstrem.

Dalam dunia teknik, komponen yang sedikit berubah bentuk (deformasi) kerap lebih aman karena energi benturan tidak langsung dilepaskan secara ekstrem.

Baca juga: Ragam Pilihan Mobil Listrik Rp 200 Jutaan dan Skema Cicilannya

"Kalau menurut saya, lebih baik pelek itu penyok daripada langsung pecah, yang tidak boleh justru kalau kena benturan langsung pecah atau hancur,” ujarnya.

Toko dan servis pelek mobil HWS WheelKOMPAS.com/Gilang Toko dan servis pelek mobil HWS Wheel

Runang menjelaskan pemilik mobil tidak perlu langsung panik jika pelek aftermarket terlihat penyok setelah menghantam lubang.

Baca juga: Daihatsu Ajak 21 Komunitas Perkuat Kolaborasi

Selama tidak retak atau pecah, kerusakan tersebut masih bisa diperbaiki di bengkel spesialis pelek.

Namun, Runang tetap mengingatkan agar pengendara menjaga tekanan angin ban dan mengurangi kecepatan saat melintasi jalan rusak.

Sebab, benturan keras dalam kecepatan tinggi tetap berisiko merusak komponen kaki-kaki, termasuk pelek.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau