Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal Mula Traffic Cone, Kerucut Oranye yang Jadi Penanda Penting di Jalan

Kompas.com, 11 Maret 2026, 08:12 WIB
Gilang Satria,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kerucut lalu lintas atau traffic cone atau juga disebut safety cone merupakan perlengkapan yang sering dijumpai di jalan.

Benda berwarna oranye ini biasanya dipasang untuk mengarahkan arus kendaraan, menandai area pekerjaan jalan, hingga memberi peringatan saat terjadi kecelakaan.

Meski terlihat sederhana, traffic cone memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan pengguna jalan. Alat ini membantu pengemudi memahami perubahan kondisi lalu lintas, seperti adanya penyempitan jalan, pengalihan jalur, atau area yang harus dihindari.

Baca juga: Amankah Ganti Merek BBM Beda SPBU? Ini Penjelasan Ahli

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa traffic cone memiliki sejarah panjang sebelum menjadi perlengkapan keselamatan jalan seperti sekarang.

Traffic cone meleyot di sejumlah titik jalan di Semarang.CCTV Dishub Semarang Traffic cone meleyot di sejumlah titik jalan di Semarang.

Awal Mula

Dilansir dari Summitflagging, sebelum traffic cone digunakan secara luas, penanda keselamatan jalan biasanya hanya berupa tiang atau papan tanda sederhana.

Penanda tersebut kurang efektif karena mudah rusak dan tidak selalu terlihat jelas oleh pengemudi.

Seiring meningkatnya jumlah kendaraan di jalan pada awal abad ke-20, muncul kebutuhan akan alat penanda yang lebih praktis dan mudah terlihat.

Pada 1940, seorang insinyur asal Los Angeles, Amerika Serikat, bernama Charles D. Scanlon memperkenalkan desain traffic cone modern. Ia membuat penanda jalan berbentuk kerucut menggunakan bahan yang ringan dan fleksibel.

Baca juga: Mudik Jauh dengan Mobil Tua, Apa Saja yang Harus Dicek?

Desain ini memiliki dasar yang cukup berat agar tidak mudah jatuh, sementara bagian atasnya lentur sehingga dapat kembali ke bentuk semula ketika tersenggol kendaraan.

Traffic cone berwarna jingga kini memagari area pedestrian di kolong Stasiun MRT Haji Nawi yang sebelumnya dipakai untuk aktivitas parkir liar.KOMPAS.com / VITORIO MANTALEAN Traffic cone berwarna jingga kini memagari area pedestrian di kolong Stasiun MRT Haji Nawi yang sebelumnya dipakai untuk aktivitas parkir liar.

Mulai Populer 

Penggunaan traffic cone mulai meluas pada 1950-an hingga 1960-an, terutama di Amerika Serikat. Saat itu, alat ini banyak dipakai di area konstruksi jalan dan lokasi perbaikan infrastruktur.

Pada periode tersebut, traffic cone juga mulai dilengkapi pita reflektif agar lebih mudah terlihat pada malam hari. Selain itu, bahan pembuatnya beralih ke plastik sehingga lebih tahan lama dan ringan untuk dipindahkan.

Warna oranye kemudian dipilih sebagai standar karena memiliki tingkat visibilitas tinggi sehingga mudah dikenali pengemudi dari jarak jauh.

Atas diskresi Kepolisian, Jasa Marga memberlakukan skema lalu lintas lawan arus atau contraflow dari Km 44+400 hingga Km 46+400 di ruas Tol Jagorawi arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/5/2025) pagiDok. Jasa Marga Atas diskresi Kepolisian, Jasa Marga memberlakukan skema lalu lintas lawan arus atau contraflow dari Km 44+400 hingga Km 46+400 di ruas Tol Jagorawi arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/5/2025) pagi

Standarisasi 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau