Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Risiko Berkendara dengan Kondisi Tangki BBM Hampir Kosong

Kompas.com, 30 Maret 2026, 13:12 WIB
Erwin Setiawan,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

SOLO, KOMPAS.com - Mengemudi dengan BBM hampir kosong merupakan kebiasaan yang sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan berbagai risiko bagi kendaraan dan keselamatan.

Risiko paling umum adalah mobil mogok secara tiba-tiba ketika bahan bakar benar-benar habis. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama jika terjadi di jalan tol atau area padat.

Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan indikator BBM sudah berkedip dapat diartikan sebagai peringatan bahwa BBM hampir habis.

Baca juga: Kementerian Imigrasi Akan Lakukan WFH per April 2026 demi Menghemat BBM


“Saat itu juga pengemudi harus segera mencari SPBU untuk melakukan pengisian BBM, jangan ditunda karena risikonya cukup beragam,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Minggu (29/3/2026).

Selain mogok, kondisi BBM yang minim dapat berdampak pada pompa bahan bakar. Komponen ini membutuhkan bahan bakar sebagai pendingin agar tetap bekerja optimal.

Jika pompa tidak terendam BBM, suhunya bisa meningkat dan mempercepat keausan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada pompa.

Baca juga: Nelayan Ketar-Ketir, Perang AS-Iran Bisa Picu Kenaikan Harga BBM

Kendaraan bermotor mengantre di sebuah SPBU Caltex di provinsi Chiang Rai, Thailand utara, Selasa (17/3/2026), menyusul gangguan impor minyak yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Dari ibu kota Bangkok hingga Chiang Rai di ujung utara negara itu, para pengemudi dan pengendara di Thailand mengantre untuk mendapatkan BBM kelangkaan semakin memburuk dan potensi kenaikan harga.AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA Kendaraan bermotor mengantre di sebuah SPBU Caltex di provinsi Chiang Rai, Thailand utara, Selasa (17/3/2026), menyusul gangguan impor minyak yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Dari ibu kota Bangkok hingga Chiang Rai di ujung utara negara itu, para pengemudi dan pengendara di Thailand mengantre untuk mendapatkan BBM kelangkaan semakin memburuk dan potensi kenaikan harga.

“Tangki bahan bakar bisa memiliki endapan kotoran di bagian dasar. Saat BBM hampir habis, kotoran tersebut berisiko ikut tersedot ke sistem bahan bakar,” ucap Imun.

Akibatnya, filter bahan bakar bisa cepat kotor dan tersumbat. Jika dibiarkan, kotoran bahkan bisa mencapai injektor dan mengganggu proses pembakaran.

Pasokan bahan bakar yang tidak stabil juga dapat menyebabkan mesin terasa brebet atau tersendat saat digunakan. Hal ini tentu mengganggu kenyamanan berkendara.

Baca juga: Cara Menghemat Konsumsi BBM Mobil Harian

Selain itu, menurut Imun, udara bisa masuk ke dalam sistem bahan bakar ketika BBM sangat rendah. Kondisi ini membuat mesin lebih sulit dihidupkan kembali.

Mengandalkan indikator BBM hingga benar-benar kosong juga berisiko karena pembacaan tidak selalu akurat, terutama di kondisi jalan tertentu.

Kesimpulannya, menjaga level BBM tetap cukup sangat penting untuk mencegah kerusakan komponen dan menjaga keamanan selama berkendara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau