Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Peralatan yang Harus Dicabut Sekarang Juga untuk Menghemat Listrik

Kompas.com, 24 Oktober 2025, 17:18 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Kebanyakan orang mengira bahwa mematikan peralatan rumah tangga sudah cukup untuk menghentikan konsumsi listrik. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. 

Beberapa perangkat elektronik tetap menggunakan daya meskipun dalam keadaan mati. Fenomena ini dikenal sebagai daya siaga.

Daya siaga memang tampak sepele, tetapi bisa menjadi sumber pemborosan energi yang besar. Jadi, jika kamu ingin menekan pengeluaran bulanan dan menjaga efisiensi konsumsi listrik di rumah, mulai sekarang biasakan mencabut beberapa peralatan berikut ini setelah digunakan.

Peralatan dapur kecil 

Peralatan dapur seperti mesin pembuat kopi, pemanggang roti, blender, atau microwave sering kali dibiarkan tetap tercolok setelah digunakan. Meskipun tampak praktis, kebiasaan ini ternyata menyedot energi lebih dari yang kamu kira.

Baca juga: 5 Barang Elektronik yang Tidak Boleh Ditinggalkan Dalam Mode Siaga

Misalnya, microwave tetap menarik listrik untuk menyalakan layar digitalnya. Begitu juga dengan mesin pembuat kopi yang mempertahankan suhu air atau waktu pemanasan. 

Masing-masing alat mungkin hanya menggunakan sedikit energi, tetapi jika dikalikan dengan banyaknya peralatan di dapur, jumlahnya bisa cukup besar.

Solusi sederhana, cabut colokan setelah digunakan, terutama untuk perangkat yang tidak kamu pakai setiap hari. 

Selain menghemat energi, langkah ini juga membantu mencegah risiko korsleting akibat lonjakan listrik mendadak.

Baca juga: 5 Peralatan Elektronik yang Harus Dicabut dari Stopkontak Saat Cuaca Panas

Charger

Kebiasaan membiarkan charger ponsel, tablet, atau laptop tetap terpasang di stopkontak meski tidak digunakan adalah salah satu penyebab utama pemborosan listrik di rumah modern. 

Saat adaptor dibiarkan menempel di colokan, arus listrik tetap mengalir, walaupun perangkat tidak sedang diisi.

Selain itu, charger yang terlalu lama terpasang juga berisiko mengalami panas berlebih dan memperpendek usia kabel. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bukan hanya membuang listrik, tetapi juga berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran kecil di area stopkontak.

Perangkat media 

Televisi, konsol game, dan komputer sering kali menjadi “vampir energi” di rumah tanpa disadari. Saat tidak digunakan, perangkat ini sering dibiarkan dalam mode siaga yang tetap mengonsumsi daya cukup besar.

Baca juga: 8 Barang Elektronik yang Tidak Harus Dicabut Setelah Digunakan

Misalnya, TV pintar akan tetap aktif sebagian untuk menerima pembaruan sistem otomatis.

Oleh karena itu, kebiasaan membiarkan perangkat tersebut tetap tercolok bisa menambah tagihan listrik secara signifikan dalam jangka panjang. 

Pompa air panas

Jika rumahmu menggunakan sistem pompa sirkulasi air panas, alat ini termasuk pengguna listrik besar yang sering diabaikan. Pompa semacam ini terus bekerja untuk menjaga suhu air agar tetap hangat sepanjang waktu.

Namun, pada musim panas atau saat kebutuhan air panas menurun, membiarkan pompa tetap aktif hanya akan menambah konsumsi energi tanpa manfaat berarti. 

Baca juga: 5 Barang Elektronik yang Tidak Boleh Dinyalakan Bersamaan, Bahaya!

Untuk menghemat listrik, kamu bisa mematikan atau mencabut pompa ketika tidak diperlukan.

Jika ingin tetap nyaman, pertimbangkan untuk memasang pengatur waktu (timer) atau sistem kontrol otomatis yang hanya menyalakan pompa pada jam-jam tertentu, misalnya pagi hari untuk mandi. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau