Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lakukan Satu Kebiasaan Ini agar Mesin Cuci Bebas Bau Tidak Sedap

Kompas.com, 1 Maret 2026, 08:15 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Mesin cuci yang bersih seharusnya membuat pakaian harum, bukan malah meninggalkan bau apek. Sayangnya, banyak orang mengalami masalah mesin cuci berbau tidak sedap, bahkan ketika pakaian baru saja dicuci. 

Padahal, penyebabnya sering kali bukan karena deterjen atau kualitas mesin, melainkan satu kebiasaan kecil yang kerap terlewat.

Jika ingin mesin cuci tidak bau, ada satu kebiasaan sederhana yang sangat efektif dan sering diremehkan, yakni membiarkan pintu mesin cuci sedikit terbuka setelah digunakan.

Kenapa mesin cuci bau?

Setiap kali mesin cuci selesai digunakan, akan selalu ada sisa uap air di dalam tabung, karet pintu, dan laci deterjen.

Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Mesin Cuci Tidak Pernah Dibersihkan?

 Jika pintu langsung ditutup rapat, kelembapan ini terperangkap di dalam mesin. Kondisi lembap inilah yang menjadi tempat favorit bakteri, jamur, dan lumut berkembang.

Dalam jangka waktu tertentu, mikroorganisme tersebut akan menghasilkan bau apek yang menyengat. Bau ini tidak hanya menempel di mesin, tetapi juga bisa berpindah ke pakaian, membuat hasil cucian terasa tidak benar-benar bersih.

Kebiasaan untuk mencegah mesin cuci bau 

Kebiasaan yang dimaksud sangat sederhana, yakni biarkan pintu mesin cuci terbuka beberapa sentimeter setelah setiap kali mencuci

Tidak perlu dibuka lebar atau dibiarkan berjam-jam. Cukup beri celah agar udara bisa masuk dan membantu mengeringkan bagian dalam mesin secara alami.

Baca juga: Jangan Asal, Ini Waktu Terbaik Menggunakan Mesin Cuci

Sirkulasi udara ini mempercepat penguapan sisa air dan mencegah terbentuknya lingkungan lembap. Hasilnya, bakteri dan jamur tidak punya kesempatan untuk berkembang, sehingga bau tidak sedap pun bisa dicegah sejak awal.

Apakah berlaku untuk semua jenis mesin cuci?

Ya, kebiasaan ini penting baik untuk mesin cuci bukaan depan maupun bukaan atas. Namun, dampaknya paling terasa pada mesin cuci bukaan depan. 

Jenis ini memiliki segel karet yang rapat untuk mencegah kebocoran air, tetapi sekaligus lebih mudah menahan kelembapan.

Mesin cuci bukaan atas memang cenderung lebih “bernapas”, tetapi tetap disarankan untuk membiarkan tutupnya terbuka setelah digunakan.
Baca juga: Berapa Lama Cucian Basah Boleh Dibiarkan di Mesin Cuci? Ini Dampaknya

Udara yang mengalir bebas akan membantu tabung mengering lebih cepat dan menjaga mesin tetap segar.

Tips tambahan agar mesin cuci tidak bau 

Selain membiarkan pintu terbuka, ada beberapa langkah ringan yang bisa memperkuat hasilnya.

Mengelap karet pintu dan bagian dalam mesin dengan kain kering setelah mencuci akan membantu menghilangkan sisa air yang menempel. Membersihkan laci deterjen secara rutin juga penting karena sisa sabun dapat menjadi sumber bau.

Tak kalah penting, lakukan siklus pembersihan mesin secara berkala, sekitar sebulan sekali. Gunakan air panas atau pembersih khusus mesin cuci untuk menghilangkan residu sabun, bakteri, dan endapan mineral yang tidak terlihat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau