KOMPAS.com - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim bahwa misi militer negaranya terhadap Iran telah melewati lebih dari separuh target yang direncanakan.
Menurut Netanyahu, penilaian tersebut tidak didasarkan pada lamanya konflik berlangsung, melainkan pada capaian strategis di lapangan.
“Sudah pasti lewat dari titik tengah,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan Newsmax, Senin (30/3/2026).
Meski demikian, Netanyahu tidak memberikan kepastian kapan konflik akan berakhir.
“Tapi saya tidak ingin mematok jadwal kapan selesainya,” ujarnya, sebagaimana dilansir CBS News.
Mengutip laporan The Guardian, Netanyahu juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan runtuh dari dalam akibat tekanan yang terus meningkat.
Baca juga: Israel Sahkan UU Kontroversial Hukuman Mati bagi Warga Palestina, Ramai Dikecam
Sementara itu, Israel Defense Forces (IDF) melaporkan telah menjatuhkan lebih dari 80 amunisi ke berbagai fasilitas produksi, penelitian, dan pengembangan senjata di Teheran.
Berdasarkan laporan The Jerusalem Post, serangan tersebut menyasar wilayah Iran utara yang berdekatan dengan Laut Kaspia.
Serangan yang dilancarkan pada Minggu (29/3/2026) itu juga menargetkan sistem pertahanan udara Iran yang berjarak hingga 1.600 kilometer dari wilayah Israel.
Dalam dua hari terakhir, sekitar 40 lokasi produksi senjata dilaporkan menjadi sasaran.
Target tersebut mencakup fasilitas perakitan rudal darat ke udara jarak jauh, komponen rudal anti-tank dan anti-pesawat, hingga mesin untuk rudal balistik.
Baca juga: Iran Konfirmasi Gugurnya Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri dalam Serangan AS-Israel
Selain itu, infrastruktur milik Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga menjadi target serangan.
IDF menyebut telah menggempur sejumlah fasilitas IRGC yang berada di Universitas Imam Hossein.
Menurut Israel, kampus tersebut digunakan sebagai kedok sipil untuk aktivitas militer, termasuk penelitian dan pengembangan senjata canggih.
Universitas tersebut dipimpin oleh perwira senior IRGC, Mohammad Reza Hassani Shahnegari.