Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelajar di Malaysia Dapat Rp 956.000 untuk Beli Buku, Indonesia Kapan?

Kompas.com, 15 Agustus 2025, 13:08 WIB
Elaine Keisha,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tingkat literasi Indonesia masih tergolong memprihatinkan. Saat negara-negara lain mulai mengeluarkan kebijakan untuk mendorong minat baca, Indonesia justru masih tertinggal.

Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara berdasarkan tingkat literasi menurut Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2019.

Selain itu, data UNESCO menunjukkan hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang gemar dan aktif membaca.

Baca juga: Mengurai Akar Krisis Literasi dari Sekolah Menengah

Di tengah krisis ini, visi menuju Indonesia Emas 2045 berpotensi terhambat. Terlebih, di era teknologi, dimana digitalisasi dan gadget mendominasi kehidupan. Generasi muda pun dituntut untuk meningkatkan literasi digital dan literasi dasar secara paralel.

Sayangnya, belum ada kebijakan khusus atau fasilitas memadai yang benar-benar mendorong peningkatan literasi dasar generasi muda.

Hal ini juga disoroti oleh penulis sekaligus Writer of the Year 2024, J.S. Khairen. Khairen mengungkapkan hal ini pada sebuah video bertajuk “J.S. Khairen, Writer of The Year 2024, dan Protesnya sebagai Penulis”.

“Kalau ada yang bilang minat baca di Indonesia rendah, itu tidak benar. Yang rendah adalah akses kebacaannya. Akses kebacaan itu lewat regulasi, lewat kebijakan, lewat pajak,” ujarnya di video unggahan KOMPAS.com, dikutip Kamis (14/8/2025).

Baca juga: Lewat Jagat Literasi, Kompas.com Donasikan Buku dan Nyalakan Asa ke Pelosok Negeri

Perbandingan dengan negara tetangga

Khairen sempat membagikan pandangannya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @js_khairen. Dalam unggahan tersebut, ia menjelaskan kebijakan literasi yang berlaku di Malaysia.

Berdasarkan penuturannya, setiap pelajar mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi mendapatkan uang saku khusus untuk membeli buku.

“Bahkan guru-gurunya pun dapat. Sampai-sampai penerbit saya di Malaysia bolak-balik datang ke Jakarta memborong novel saya demi program ini,” tulis Khairen dalam keterangan unggahannya.

Dalam video wawancara bersama KOMPAS.com, Khairen juga membeberkan besaran dana yang diterima pelajar Malaysia dari program tersebut, yakni kisaran RM 100 hingga RM 250 (Rp 382.445 – Rp 956.112) di seluruh wilayah negeri jiran itu.

Baca juga: PJJ Tahap Pertama Dimulai, Diikuti 93 Siswa WNI SMA di Malaysia

“Di Indonesia juga dikasih duit beli buku, tapi yang beli bukunya gurunya, yang nentuin perpustakaannya. Buku yang dibeli bukan buku yang diinginkan anak-anak, dan ketika masuk perpustakaan, buku-buku itu akhirnya tidak dibaca,” ujarnya.

Ajakan kebijakan ala JS Khairen

Membandingkan dengan kebijakan di negara tetangga, Khairen mengajak pemerintah untuk melakukan pembenahan kebijakan literasi di Indonesia.

Menurutnya, seperti di Malaysia, pelajar seharusnya diberikan kemandirian untuk memilih buku yang ingin dibaca, sekaligus memperoleh tunjangan khusus untuk mengakses buku.

Seiring dengan program makan siang gratis, Khairen berharap juga akan ada program pemberian buku gratis, sebagaimana yang telah diterapkan di Malaysia.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau