Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Demi Atasi Krisis Membaca, Denmark Hapus Pajak Penjualan Buku

Kompas.com, 26 Agustus 2025, 18:52 WIB
Elaine Keisha,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - BBC memuat data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menunjukkan bahwa seperempat remaja berusia 15 tahun di Denmark tidak mampu memahami teks yang sifatnya sederhana.

Wakil Ketua Kelompok Kerja Pemerintah Bidang Sastra, Mads Rosendahl Thomsen, mengakui bahwa kondisi ini cukup memprihatinkan karena kemampuan tersebut sebenarnya sangat penting.

Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, pemerintahan Denmark memutuskan untuk menghapus pajak penjualan buku dengan harapan akan ada lebih banyak buku yang terjual dan tumbuh kecintaan baru terhadap membaca.

Baca juga: Pelajar di Malaysia Dapat Rp 956.000 untuk Beli Buku, Indonesia Kapan?

Padahal, pajak penjualan buku di Denmark termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu 25 persen.

Jika Denmark menghilangkan pajak buku, maka akan ada pengurangan biaya negara sekitar 330 juta kroner atau setara Rp 563,65 miliar dalam setahun.

Menteri Kebudayaan Jacob Engel-Schmidt, menekankan tidak masalah dengan adanya pengurangan biaya tersebut.

Ia meyakini bahwa uang dalam jumlah besar harus dihabiskan untuk berinvestasi dalam konsumsi dan budaya masyarakat Denmark.

Sebagai tambahan informasi, penerapan pajak nol pada penjualan buku juga telah diberikan oleh negara lain, seperti Britania Raya.

Kendati demikian, pengilangan pajak ini dianggap bukan menjadi satu-satunya solusi untuk meningkatkan literasi anak-anak.

Dilansir dari BBC, Selasa (26/8/2025) Thomsen menekankan pula pentingnya peningkatan akses terhadap bahan bacaan atau buku bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga: Novel Jepang Menang Penghargaan meski Ditulis Pakai ChatGPT, Ini Pengakuan Penulis

Mereka pun tengah mempertimbangkan kebijakan dan program pendukung lainnya, seperti ekspor karya sastra Denmark, digitalisasi buku, hingga gaji penulis.

Ilustrasi membacakan buku untuk anak.Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi membacakan buku untuk anak.

Kondisi Indonesia dalam kasus serupa

Berdasarkan skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, literasi Indonesia ada di peringkat 71 dalam hal kemampuan membaca peserta didik berusia 15 tahun.

Skor rata-rata kemampuan membaca siswa Indonesia pun lebih rendah dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Sementara itu, kondisi penulis di Indonesia juga masih memprihatinkan. Dilansir dari KOMPAS.id, royalti yang diterima masih relatif kecil ditambah dengan adanya tuntutan pajak dari pemerintah.

Belum lagi, maraknya bajakan terhadap karya mereka oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal ini tentu menimbulkan kerugian bagi para penulis Indonesia.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau