Langkah ini efektif meruntuhkan keraguan pembeli global yang sering kali khawatir akan perbedaan antara foto katalog dengan realitas produk kerajinan tangan.
Meski telah melanglang buana, jalan Mahendcraft tidak selalu mulus. Selain kendala cuaca yang menghambat produksi, Priyo menyoroti ketatnya persaingan domestik seiring banyaknya daerah lain yang mulai melirik ceruk pasar serupa.
Di sisi lain, skema pembayaran B2B yang membutuhkan waktu lama sering kali menekan arus kas UMKM.
Di sinilah peran sistemik pemerintah dan BUMN menjadi krusial. Sebelum menapakkan kaki di IFEX 2026, Priyo merupakan mitra binaan BUMN yang telah melalui proses seleksi ketat.
Baca juga: Furnitur Rotan dan Anyaman, Apa Bedanya?
Fasilitas pelatihan ekspor hingga pemberdayaan penganyam di daerah baru menjadi "bahan bakar" bagi Mahendcraft untuk terus melaju.
Selama empat hari di IFEX 2026, Priyo mencatat antusiasme yang seimbang antara pembeli domestik dan mancanegara.
“Buyer mancanegara masih melihat dan membandingkan harga. Setelah ini akan kami tindak lanjuti,” pungkasnya optimistis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang