Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kecoak Ternyata Meracuni Udara, Dapur Jadi Tempat dengan Kadar Tertinggi

Kompas.com, 6 November 2025, 15:30 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian menemukan hubungan yang jelas antara tingkat infestasi kecoak di rumah dengan tingginya kadar alergen serta racun bakteri yang dikenal sebagai endotoksin di udara dalam ruangan.

Infestasi kecoak adalah kondisi ketika populasi kecoak berkembang biak dan menyebar di suatu area, seperti rumah atau gedung, hingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari North Carolina State University, Raleigh, dan telah dipublikasikan dalam The Journal of Allergy and Clinical Immunology: Global.

Hasil penelitian menunjukkan, ketika jumlah kecoak berhasil ditekan melalui pengendalian hama yang efektif, kadar alergen dan endotoksin di udara juga menurun secara signifikan.

Temuan ini menegaskan bahwa membersihkan rumah dari kecoak bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga langkah penting untuk meningkatkan kualitas udara serta kesehatan lingkungan di dalam rumah dengan mengurangi polutan biologis yang berbahaya.

Baca juga: 10 Cara Mengusir Kecoa, Ampuh dan Tanpa Sentuh


Kecoak bisa meracuni udara

Dilansir dari Science Daily, Selasa (4/11/2025), endotoksin merupakan fragmen dinding sel bakteri yang dilepaskan ketika bakteri mati.

Karena kecoak memakan beragam jenis bahan makanan, mereka memiliki mikrobioma usus yang sangat kompleks. Dari sanalah endotoksin dihasilkan dan keluar melalui kotoran kecoak.

Walaupun manusia dan hewan peliharaan juga bisa menghasilkan endotoksin, penelitian ini menemukan, sebagian besar endotoksin di debu rumah tangga justru berasal dari kotoran kecoak.

“Survei sebelumnya di AS menemukan kadar endotoksin jauh lebih tinggi di rumah yang diketahui memiliki kecoak, terutama di rumah tangga berpenghasilan rendah," kata profesor entomologi di NC State sekaligus penulis utama penelitian, Coby Schal.

Penelitian tersebut dilakukan di beberapa kompleks apartemen di Raleigh, North Carolina.

Para peneliti mengukur tingkat infestasi kecoak serta konsentrasi alergen dan endotoksin di tiap unit rumah.

Sebelum perlakuan dilakukan, mereka terlebih dahulu mengumpulkan sampel debu yang mengendap dan yang melayang di udara sebagai data awal.

Hasilnya menunjukkan bahwa rumah dengan infestasi kecoak memiliki kadar endotoksin tinggi, dan kecoak betina menghasilkan sekitar dua kali lebih banyak dibanding jantan.

“Kecoak betina makan lebih banyak, jadi mereka juga menghasilkan lebih banyak endotoksin melalui kotorannya,” jelas peneliti Madhavi Kakumanu.

Baca juga: Bolehkah Membunuh Kecoa sampai Hancur?

Dapur menyimpan kadar endotoksin lebih tinggi

Kakumanu menambahkan, dapur biasanya menyimpan kadar endotoksin lebih tinggi karena menjadi sumber makanan utama kecoak.

Halaman:


Terkini Lainnya
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Tren
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Tren
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Tren
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Tren
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau