Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Langit Merah Darah di Australia, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 20:00 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Albertus Adit

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Langit di Shark Bay, Australia Barat, berubah menjadi merah darah menjelang pendaratan Topan Tropis Narelle pada Jumat (27/3/2026).

Fenomena langka ini terjadi saat sistem badai tersebut bergerak menuju pesisir dan akhirnya menghantam wilayah sekitar 900 kilometer di utara Perth, yang merupakan salah satu kawasan penghasil pangan utama.

Video yang direkam di Shark Bay Caravan Park di Denham menunjukkan adanya badai debu pekat menyelimuti kota, mengubah warna langit menjadi merah gelap yang dramatis.

Salah satu warga, Kerrie Shepherd, mengaku belum pernah menyaksikan fenomena serupa sebelumnya. Ia menggambarkan perubahan warna langit terjadi secara bertahap.

“Langit semakin lama semakin berwarna oranye seiring berjalannya sore, dan sekitar pukul 15.30 waktu setempat, ketika kami keluar, warnanya sudah seperti itu,” ujarnya, dikutip dari ABC, Senin (30/3/2026).

“Semua tampak merah, ke mana pun kami memandang. Debunya terasa masuk ke tenggorokan dan mulut, bahkan terasa kasar di gigi dan mata,” tambahnya.

Baca juga: BMKG: 7 Wilayah Mulai Masuk Musim Kemarau April 2026, Didominasi Jawa dan Nusa Tenggara


Penyebab langit merah darah di Australia

Menurut para ahli, fenomena langit merah tersebut disebabkan oleh badai debu yang mengandung partikel kaya zat besi.

Jessica Lingard dari Biro Meteorologi Australia menjelaskan bahwa kombinasi angin kencang dan kondisi tanah di wilayah tersebut menjadi faktor utama munculnya warna ekstrem itu.

Wilayah Pilbara, yang dikenal sebagai pusat industri bijih besi Australia, berjarak kurang dari 400 kilometer di timur laut Denham.

Tanah di kawasan tersebut berwarna merah karat karena kandungan besinya yang tinggi, sehingga mudah terangkat ke udara saat diterpa angin kencang.

“Narelle bertiup cukup kuat untuk mengangkat debu dari lanskap dan mendorongnya ke wilayah seperti Shark Bay, bahkan sebelum siklon tiba,” jelas Lingard, dilansir dari The Guardian, Senin.

Ia menambahkan, fenomena ini tidak terjadi setiap saat karena membutuhkan kombinasi kondisi yang sangat spesifik, seperti angin kencang, tanah kering, serta jumlah partikel debu yang cukup di atmosfer.

Selain itu, partikel debu di udara memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar.

Baca juga: Indonesia Pamerkan Inovasi Kopi Nusantara di Australia, Dorong Ekspor dan Keberlanjutan

Dalam kondisi tertentu, terutama saat pagi atau sore hari, warna merah menjadi lebih dominan karena panjang gelombangnya lebih mampu menembus partikel debu dibandingkan warna lainnya.

Sebelumnya, fenomena serupa sebelumnya juga pernah terjadi di Onslow pada Januari lalu.

Halaman:


Terkini Lainnya
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Tren
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Tren
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Tren
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Tren
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Tren
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau