Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanpa Anggaran, Cagar Budaya Gedong Duwur Sejarah 160 Tahun Indramayu Tergerus Cuaca dan Waktu

Kompas.com, 1 April 2026, 09:16 WIB
Wahyu Wachid Anshory

Editor

KOMPAS.com - Plafon bangunan bersejarah bangunan cagar budaya Gedong Duwur di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ambruk setelah sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan pada awal Maret 2026. 

Peristiwa ambruknya plafon terjadi pada Jumat (27/3/2026) akibat hujan deras yang disertai angin kencang.

Setengah bagian plafon bangunan yang berada di dalam area asrama TNI, Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, roboh dan menyebabkan material bangunan berserakan.

Baca juga: Kasus PMI Indramayu yang Dibunuh Majikan di Arab Saudi Lanjut, Keluarga Laporkan Sponsor ke Polisi

Apa penyebab ambruknya plafon Gedong Duwur?

Pamong Budaya Bidang Kebudayaan Disdikbud Indramayu, Suparto Agustinus, mengatakan bahwa kondisi bangunan yang sudah lapuk menjadi faktor utama penyebab ambruknya plafon.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah merencanakan langkah darurat untuk menopang plafon yang mulai keropos menggunakan kayu atau bambu. Namun, rencana tersebut belum sempat direalisasikan.

"Rencana kami sebenarnya mau ada tindakan, minimalnya dengan menopang plafon menggunakan kayu atau bambu, tetapi sebelum kami melakukan tindakan itu, di hari Jumat terjadi hujan besar disertai angin, hari Sabtunya kami dapat laporan ambruk," ujar Suparto Agustinus yang akrab disapa Tinus.

Baca juga: Aksi Heroik Anak Terobos Kobaran Api Selamatkan Ibu Lansia Terjebak Kebakaran di Indramayu

Apa kondisi bangunan setelah kejadian?

Saat ini, area plafon yang ambruk telah dipasangi garis polisi untuk mencegah aktivitas warga di sekitar lokasi.

Hal ini dilakukan guna menghindari risiko kecelakaan akibat material bangunan yang masih berpotensi jatuh.

Kerusakan yang terjadi tergolong parah, terutama pada bagian depan bangunan. Material kayu plafon yang runtuh juga berserakan di lantai.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Indramayu, Taufik Ismail, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk menginventarisasi kerusakan.

"Kami akan laporkan kepada kepala dinas untuk dicarikan solusi agar bangunan ini dapat kembali baik. Setidaknya kami akan duduk bersama dengan dinas terkait seperti Dinas Kimrum, PUPR, bidang aset, dan Kodim 0616/Indramayu, untuk mencari solusi," kata Taufik.

Baca juga: Butuh Rp 600 Miliar untuk Perbaiki Semua Jalan Rusak di Kabupaten Indramayu

Mengapa Gedong Duwur penting?

Gedong Duwur bukanlah bangunan biasa. Bangunan ini didirikan pada tahun 1866, beriringan dengan pembentukan Distrik Indramayu di bawah Karesidenan Cirebon.

Pada tahun 2026, bangunan ini genap berusia 160 tahun.

Pada masa kolonial, Gedong Duwur difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat tinggal Asisten Residen, yang menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda di wilayah tersebut.

"Di sini adalah kantor sekaligus tempat tinggal bagi Asisten Residen, kemudian naik menjadi Residen. Setelah agresi militer Belanda pertama itu pernah dipakai palang merah Hindia Belanda, kemudian setelah kemerdekaan tanah-tanah yang menjadi kekuasaan kolonial penjajah itu ditarik oleh militer sampai sekarang," jelas Tinus.

Halaman:


Terkini Lainnya
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Regional
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
Regional
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
Regional
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Regional
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
Regional
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Regional
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Regional
Duduk Perkara Kasus Musa, Bantu Lunasi Utang Rp 198 Juta Berujung Vonis 5 Bulan Penjara
Duduk Perkara Kasus Musa, Bantu Lunasi Utang Rp 198 Juta Berujung Vonis 5 Bulan Penjara
Regional
Farhan Janjikan Bonus Sarapan untuk ASN Bandung yang Tak WFH dan Bersepeda di Hari Jumat
Farhan Janjikan Bonus Sarapan untuk ASN Bandung yang Tak WFH dan Bersepeda di Hari Jumat
Regional
Ayah Ditahan Usai Bantu Lunasi Utang Teman, Anak Sampai Utang Sana-sini Demi Hidup Keluarga
Ayah Ditahan Usai Bantu Lunasi Utang Teman, Anak Sampai Utang Sana-sini Demi Hidup Keluarga
Regional
Pemkot Madiun Tetap Wajibkan Eselon II dan III Masuk, Meski Ada WFH Setiap Jumat
Pemkot Madiun Tetap Wajibkan Eselon II dan III Masuk, Meski Ada WFH Setiap Jumat
Regional
Ayah di Kebumen Jadi Predator Anak Kandung Selama 2 Tahun, Korban Diancam Dibunuh
Ayah di Kebumen Jadi Predator Anak Kandung Selama 2 Tahun, Korban Diancam Dibunuh
Regional
Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan
Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan
Regional
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Sampaikan Belasungkawa Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Sampaikan Belasungkawa Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon
Regional
Timur Tengah Bergejolak, Wagub Edy Pratowo Pastikan 1.571 Jemaah Haji Kalteng Berangkat Mei 2026
Timur Tengah Bergejolak, Wagub Edy Pratowo Pastikan 1.571 Jemaah Haji Kalteng Berangkat Mei 2026
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Tanpa Anggaran, Cagar Budaya Gedong Duwur Sejarah 160 Tahun Indramayu Tergerus Cuaca dan Waktu
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat