Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Mitos Mencuci Pakaian yang Bikin Kain Cepat Rusak, Jangan Dipercaya

Kompas.com, 2 Maret 2026, 15:32 WIB
Elma Pinkan Yulianti,
Esra Dopita Maret

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ada banyak metode mencuci pakaian yang beredar di masyarakat untuk membuat kain tampak bersih, segar, serta berumur panjang. 

Namun, beberapa metode ada yang hanya mitos belakang. Mitos tersebut terus dilakukan atau masih dipercaya hingga sekarang ini. 

Baca juga: Jangan Asal, Ini Suhu Air yang Tepat untuk Mencuci Pakaian Putih 

Padahal, mitos mencuci pakaian tersebut justru dapat membuat kain lebih kotor dan terlihat lusuh, rusak, hinggga berumur pendek. 

Tak hanya itu, mitos mencuci pakaian juga berdampak pada membengkaknya tagihan listrik di rumah. 

Untuk menghindari hal ini, dikutip dari Real Simple, Senin (2/3/2026), berikut sejumlah mitos mencuci pakaian yang bikin kain cepat rusak dan tidak perlu mempercayainya. 

Perlu melakukan dry clean pada pakaian tertentu

Ilustrasi mencuci pakaian dengan mesin cuci.SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO Ilustrasi mencuci pakaian dengan mesin cuci.
Hannah Yokoji, Kepala Pemasaran di The Laundress, mengatakan banyak pakaian, seperti wol dan kasmir, sebenarnya dapat dicuci dengan tangan atau mesin cuci pada siklus halus, asalkan memakai produk tepat serta mengikuti aturan dasar perawatan.

Karena itu, Yokoji menyarankan mencari detergen wol dan kasmir berkualitas yang bebas enzim yang memungkinkan mencuci serat alami halus, seperti wol, kasmir, dan campuran rajutan di rumah dengan percaya diri. 

Baca juga: Catat, Ini Kain yang Aman Menggunakan Pelembut Pakaian 

Lebih banyak detergen, hasilnya lebih bersih 

Selanjutnya, mitos mencuci pakaian yang bikin kain cepat rusak adalah menggunakan lebih banyak detergen untuk hasil lebih bersih. 

Frej Lewenhaupt, Co-founder & Chief Product Officer di Steamery yang berbasis di Stockholm, Swedia, menyebut menggunakan terlalu banyak detergen dapat membuat pakaian terasa kaku, kehilangan bentuknya, atau muncul lapisan sabun yang tidak pernah hilang sepenuhnya. 

"Hal ini terjadi ketika detergen tidak terbilas sepenuhnya dan seiring waktu dapat membuat pakaian terlihat kusam atau usang," ucap Lewenhaupt.

Di sisi lain, Kim Romine, ilmuwan perawatan kain P&G, mengatakan ada batasan menggunakan detergen. 

“Sering kali orang meremehkan jumlah cucian dan tingkat kekotoran sehingga justru tidak menggunakan detergen yang cukup untuk membersihkan pakaian secara efektif,” ucap Romine. 

Karena itu, Romine menyarankan memperhatikan jumlah detergen yang direkomendasikan untuk hasil terbaik daripada hanya mengira-ngira saja. 

Baca juga: Catat, Ini Waktu Terbaik Mencuci Pakaian untuk Hemat Tagihan Energi 

Semua noda membutuhkan perlakuan yang sama

Penting diketahui, tidak semua noda sama, sehingga cara menanganinya pun berbeda. Pastikan menentukan berdasarkan bahan spesifik noda dan komposisi kain untuk meningkatkan peluang menghilangkan noda

"Misalnya, noda darah hanya boleh dibersihkan menggunakan air dingin untuk mencegah noda menempel pada pakaian," kata Yokoji. 

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau